Batas antara harapan dan mimpi tak ubahnya seperti perangko pada amplop merah jambu yang ku kirim di penghujung sore bulan Juli.

Aku mempercepat langkah kakiku seiring angin yang makin kencang menerbangkan daun-daun kering di sepanjang jalan yang juga hampir merenggut amplop merah jambu di tangannku. Beberapa kali aku hampir terjatuh karena menginjak gaun panjang yang ku kenakan. Aku makin mempercepat langkahku, waktuku hampir habis. Apa pun yang terjadi aku harus mengirimkan amplop merah jambu ini sore ini juga, bukan apa-apa percayalah di dalam sini aku sematkan bukan hanya sebuah harapan untuk kekasihku tapi berjuta harapan. Jika tidak ku kirimkan sore ini juga harapanku hanya akan menjadi  mimpi yang ditelan malam dengan tawa riuh katak sawah yang seolah menghinakan cintaku.

Senja masih bersamaku saat aku sampai di pelataran sebuah bangunan tua yang terlihat masih kokoh namun tak terurus karena sudah ditinggalkan pemiliknya sejak pertama kali berdiri begitulah yang kudengar dari  orang-orang. Aku tidak habis pikir apa yang ada dipikiran pemilik bangunan yang sebenarnya lebih mirip gereja ini saat membangun kemudian dengan mudah meninggalkannya, bukankah sudah begitu banyak keringat, pikiran dan uang yang dia keluarkan untuk membangun ini, ah aku jadi teringat seorang tetanggaku yang meninggalkan bayi yang baru dilahirkannya di tempat ini karena tak berbapak, setelah beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita padaku tentang dia yang akan memberikan seluruh hidupnya untuk kekasihnya. Benar saja cintanya harus dibayar dengan roh yang meninggalkan raganya. Sungguh  sebuah jiwa yang terbuang di tempat yang terbuang. Maka sebab itu tidak ada satu pun orang yang mau datang ke tempat ini  apalagi berlama-lama di tempat yang mereka anggap membawa hawa negatif ini, kecuali aku.

Puluhan merpati menyambutku dengan kepala naik turun, merekalah nanti yang akan mengirimkan amplop merah jambu ini kepada kekasihku. Kemudian ku pilih seekor diantaranya, yang terlihat kuat dan berwarna abu-abu sama seperti warna senyum kekasihku belakangan ini. ku ikatkan amplop merah jambuku pada kaki merpati itu dan ku katakan padanya “ Ku titipkan padamu masa depan hidupku, citaku dan cintaku. Terbanglah yang tinggi jangan pernah menyerah pada angin dan sampaikan ini padanya dengan baik.” Tugasku selesai dan aku harus juga bergegas pulang.

Sepanjang perjalanan pulang aku membayangkan wajah kekasihku. Ku bayangkan saat nanti pertama kali dia membuka jendela kamarnya lalu mendapati seekor merpati dengan amplop merah jambu terikat di kakinya, pastilah salah satu alisnya akan naik karena bingung. Tapi aku yakin senyumnya akan mengembang saat dia melihat perangko yang tertempel di sana. Aku tidak sabar menunggu balasan darinya yang pasti merasa takjub dengan apa yang aku kirimkan. Bayangkan saja dalam amplop itu aku memasukan senyum ayahku dan sorot mata cantik ibukku yang kurajut menjadi baju hangat untuknya. Bukan hanya itu di dalamnya aku juga memasukan sebuah cermin yang tergambar wajahku agar dia selalu melihat masa depannya denganku. Dan ini yang paling spektakuler di antara semuanya, aku memasukan sebuah sinar matahari pagi yang dibalut dengan wewangian bunga musim semi dan indahnya bentang cakrawala dengan garis kuning keemasan di bawah kaki langit. Bayangkan bagimana dia akan membaca dan menjelajahi semua yang kurimkan untuknya. Itulah hal yang paling pantas untuk ku kirimkan pada seorang pejuang bersorot mata tajam sepertinya. Sebuah cinta, masa depan dan penjelajahan.

 

Chapter
1
Penulis