Gendhisku yang manis, pemilik lesung pipi dan senyum tercantik di muka bumi. Amplop yang kau kirim sudah ku terima tepatnya lima tahun dari sejak kau mengirimnya. Entah apa yang dilakukan merpati ini selama lima tahun terakhir, mungkinkah dia tersasar atau justru dia kebelet kawin dan menemukan tempat menanam benih lalu mereka berbahagia sesaat dengan kebersamaan mereka sebelum merpati ini teringat tugasnya. Ahh entahlahh ..... tapi sungguh merpati ini membuatku kesal karena mengharuskanku menunggu selama itu untuk mendengar kabar darimu.

Benar katamu manis, aku terkejut bukan main saat mendapati seekor merpati mengetuk-ngetuk jendela kamarku. Tapi manis, malam itu hujan turun dengan begitu derasnya, dan amplop yang kau kirimkan mulai memudar warnanya, aku mendapati warna abu-abu menyelimuti amplop merah jambumu. Mungkin saja warna dari bulu-bulu merpati ini telah luntur sehingga menutupi sebagian warna asli amplop ini. Tapi maafkan aku manis malam itu tak langsung ku buka amplop pemberianmu karena aku harus mengeringkannya bersama dengan merpati itu. Dan lagi-lagi maafkan aku yang sangat ceroboh ini gendhisku, manisku... tak sengaja amplop itu terbakar  sehingga berhamburan segala isi di dalamnya. Betapa kacaunya malam itu manis, saat secara tiba-tiba cahaya matahari pagi yang kau kirimkan muncul di tengah malam. Semua kota menjadi begitu terang, ini fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya, matahri terbit pukul 12.00 malam. Seluruh kota menjadi sangat kacau. Semua orang berhamburan keluar rumah, lantas mereka mulai menyadari asal cahaya matahari itu bukan dari ufuk timur tapi dari rumahku !! Mereka berbonong-bondong ke rumahku, aku seperti seorang penjahat yang telah terkepung. Aku panik bukan main. Aku takut mereka menuduhku telah mencuri matahari pagi dari ufuk timur. Kau tentu tau manis, mereka tidak suka mendengar alasan ataupun suara dari orang lain. Mereka lebih suka membenarkan pendapat mereka sendiri entah itu benar atau salah. Mati-matian aku berusaha menyembunyikan cahaya itu, dari mulai memasukannnya ke dalam laci, meletakannya di bawah tempat tidurku, sampai ku masukan dalam kantong celanaku lalu kududuki, tapi semua sia-sia cahaya itu terlalu kuat, terlalu besar dan terlalu indah untuk disembunyikan.  Lalu kuputuskan memasukannya ke dalam hiasan botol yang di dalamnya tersimpan sebuah pantai cantik yang kita temukan di ujung pulau Madura. Biar ku katakan pada mereka bahwa cahaya itu berasal dari pulau yang ada di dalam botol ini. Bukankah sangat briliant ideku ini manis.  Ya... aku tau andai kau di sisi ku pasti tak hentinya kau akan memujiku dengan tatapan penuh cinta.

Manis, aku mendengar orang-orang makin riuh di luar rumahku. Aku sempat melihat mereka dari jendela kamarku. Wajah mereka dipenuhi tanda tanya, tapi ada juga yang memasang wajah penuh kebencian mungkin karena merasa terganggu tidur malamnya harus lebih singkat dari biasanya.  Tak lama kemudian beberapa orang polisi mengetuk pintu rumahku diikuti bebrapa pejabat kota, tak ada yang bisa kulakukan selain membuka pintu dan menghadapi mereka dengan gagah berani. Benar saja manis mereka menuduhku telah mencuri cahaya matahari pagi dari ufuk timur setelah sebelumnya menanyakan banyak hal padaku, mulai dari bagaimana caraku mendapatkannya sampai siapa yang membantuku mengambilnya. Lalu ku katakan pada mereka bahwa aku mendapatkannya dari kekasihku yang teramat manis. Muka gilaa .... mereka malah menuduhmu sebagai sindikat pencuri cahaya matahari dan aku sebagai penadah . salah seorang dari mereka mengatakan, “ Pantas saja matahari pagi kini tak secemerlang dulu ternyata sinarnya telah dicuri sedikit demi sedikit. “ Aku rasa mereka sudah mulai tidak waras manis. Bukan hanya itu, mereka juga mengatakan bila memang benar yang ku katakan tentu sebentar lagi cahaya matahari akan segera punah karena semua pecinta menghadiahkannya pada kekasih mereka. Sontak aku bangkit dan memukul wajah salah satu orang yang mengatakan hal itu itu, berani-beraninya dia menghina Gendhisku yang manis. Orang itu jatuh tersungkur dengan darah mengalir dari hidungnya. Dua orang polisi kemudian menyergapku dan membawaku ke kantor polisi dengan tuduhan telah mencuri cahaya matahari pagi dan melakukan tindakan penyerangan. Aku dinyatakan bersalah dan harus mendekam di penjara selama tiga bulan.

Di pertengahan bulan Agustus aku kembali menghirup udara bebas manis. Tempat pertama yang kutuju adalah kamarku, tempat di mana segala tentangmu ku simpan.  Sudah mulai berdebu, iya segalanya sudah mulai berdebu tidak terlalu tebal memang tapi ini cukup membuatku sedih karena tak mampu menjaga dirimu yang tersimpan di kamarku ini. Ahh .. cahaya matahari itu masih bersinar dengan indahnya di dalam botol, cantik sekali.  “ Mampus kalian penduduk kota, tak kalian dapati gelapnya malam karna cinta kekasihku yang teramat manis.” Kataku. Tapi sebagai lelaki aku ingin melindungi cintamu seutuhnya manisku, aku tidak ingin semua orang mengumpati mu karena kasih cintamu yang luar biasa itu. Lalu kuputuskan untuk berkemas ku ambil senyum ayah dan sorot mata cantik ibumu dari amplop untuk menemani lagkahku nanti. Dan cahaya itu, aku membalutnya dengan kain hitam yang sangat tebal dan berlapis-lapis, tidak tertutup memang namun cukup tersamarkan untuk tidak menarik perhatian orang. Sore itu juga aku membawa semua tentangmu dari kota ini ke sebuah tempat yang lebih kau sukai pastinya, tempat yang dingin, sejuk, penuh dengan tanaman segar. Aku sampai di sana tepat pukul 02.00 dini hari, lalu segera ku naik ke atas sebuah bukit. Empat puluh lima menit lamanya aku menyusuri jalan menanjak itu untuk sampai di puncak bukit. Suasana malam itu sungguh gelap hanya ada suara angin yang berhembus kencang dan dedaunan yang saling bergesekan, sungguh harmoni yang menakjubkan. Aku duduk di atas sebuah batu besar di tengah bukit, ku keluarkan cahaya matahari itu dari dalam botol dengan sangat perlahan, lalu aku mulai berjalan melewati awan menuju ufuk timur, ku letakan cahaya itu di sudut bumi yang paling indah. Di sini akan menjadi tempat paling indah saat aku membuka mata, menikmati hadiah terindah darimu sambil menyesap kopi buatanmu dan menatap senyum manis gendhisku.

Chapter
1
Penulis